Minggu, 23 September 2018

Kemampuan Berbahasaku

Keterampilan berbahasa


Nama     : Elsa Romora Sinambela
Kelas      :A
Prodi      : Teknologi Informasi
NIM        :1810817320008


Berbahasa tak hanya sekedar mengkaji penyampaian  tetapi merupakan aspek penting dalam bidang komunikasi verbal nonverbal dengan tujuan menyalurkan informasi dari individu satu terhadap yang lain atau individu kepada kelompok. Selama menempuh pendidikan disekolah, siswa dihadapkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia sebagai kewajiban dari bernegara itu sendiri. Dari pembelajaran tersebut, kita menemukan berbagai keterampilan yang dibagi menjadi 4 aspek seperti membaca dan menyimak yang bersifat reseptif juga berbicara dan menulis yang bersifat produktif karena menghasilkan produk atau keluaran.
Banyak yang sudah saya pelajari dari pelajaran berbahasa seperti penggunaan EYD, kalimat baku, tanda baca, penyampaian pidato, penulisan surat resmi, analisa data, dan lain-lain. Tetapi dari semua itu, saya lebih menguasai keterampilan menyimak. Saya bukanlah seseorang yang ahli mengkaji sains. Saya lebih senang menyimak dan menganalisis permasalahan yang kerap terjadi disebuah lingkungan ataupun polemik di bidang hukum dan politik. Saya senang membuat rumusan masalah dan mendiskusikannya dalam sebuah organisasi-organisasi sekolah.
Menulis. Saya gemar melakukannya karena itu bagian dari kecintaan saya dalam membuat sajak. Saya tidak tahu kapan persepsi ini muncul dalam benak saya kalau sajak lebih berorientasi pada rasa dan permainan diksi. Tidak seperti penulisan pidato atau makalah dimana kaidah-kaidah tersebut merupakan suatu keharusan. Faktor lain yang membuat saya kurang pandai dalam keterampilan menulis adalah kurangnya ketelitian yang sering dialasankan pada kurangnya waktu atau pengerjaan yang sifatnya terburu-buru sehingga semua opsi terlihat benar, tapi bukanlah yang paling tepat.
Keterampilan terakhir yang kurang saya kuasai adalah keterampilan berbicara. Saya senang mengemukakan pendapat. Hanya saja faktor penghambat baik internal maupun eksternal kerap kali dilalaikan. Faktor-faktor tersebut seperti kurangnya latihan dan pengalaman berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, rasa gugup yang belum bisa dikontrol dengan baik serta lingkungan yang saya tinggali lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa yang lebih nyaman dipakai sehingga agak sulit membangun kebiasaan berbahasa Indonesia.
Semua orang punya dan dapat mengembangkan keterampilan berbahasa. Berbahasa adalah salah satu faktor bagaimana kita membangun relasi yang baik yang menjadi kunci kesuksesan itu  sendiri. Dengan terampil berbahasa, kita dapat menyampaikan informasi dengan baik dan dapat diterima dengan jelas informasi tersebut kepada  yang bersangkutan. 








Ketidakmampuan menilai kemampuan



      Nama     : Ryan Ramel
Kelas      :A
Prodi      : Teknologi Informasi
NIM        :1810817110005


                Selamat membaca keresahan seorang anak yang ingin menilai dirinya sendiri. Anak ini duduk didepan laptop berkualitas rendah dan berusaha mengetik tentang kemampuannya dalam berbahasa. Dia berpikir keras tentang apa yang dia kuasai dan apa yang kurang dia kuasai. Hingga akhirnya dia putuskan bahwa dia tidak menguasai semuanya.
                Anak ini bisa menyimak dengan baik, cukup baik untuk fokus kepada pembicara dan memahami pembicaraanya. Ia juga dapat membaca dengan lancar, cukup untuk bisa memberikan nada pada sebuah dialog dan juga membaca puisi dengan emosi. Dia mampu berbicara dengan lantang, karena sebagian orang senang mendengarkan kisah-kisahnya. Dan dia sudah bisa menulis dengan kata yang menurutnya akan indah dengan seluruh kemampuan yang dia miliki.
                Tapi anak ini lemah terhadap hal yang serius dan terikat pada aturan yang berat. Dia sulit menyimak pembicaraan monoton dan lebih memilih membuat burung kertas atau melukis acak di buku catatan. Matanya akan sangat malas membaca buku tebal, tanpa gambar, dan hanya hitam putih tanpa mendapat dukungan (tepatnya paksaan) untuk membacanya. Bila bicara dalam situasi sangat formal, maka tubuhnya akan menolak secara perlahan, keringatnya mengalir, kakinya bergetar dan matanya mudah berair. Belum lagi bila dia harus menulis untuk orang yang terikat kuat pada aturan penulisan, anak ini ingin menulis dengan sepenuh hati, sehingga otaknya lupa aturan menulis yang harusnya ditaati.
                Bila harus memperjelas, dia benar-benar lemah dalam menulis, membuat makalah akan membuatnya cepat tidur dan tidak  menulis sebuah huruf pun. Bila dia harus memilih mana yang ia kuasai, maka dia akan memilih kemampuan bicara, dimana dia ingin terus menerus bicara dan mampu membuat semua orang mengenalnya, mengenal dirinya, kelemahannya dan kemampuannya.



Mampu, tetapi Belum Terampil



Nama   : Faridah
NIM    : 1810817220015
Prodi   : Teknologi Informasi
Kelas   : A
Dari lahir manusia telah dianugerahi kemampuan berbahasa oleh Tuhan. Kemampuan berbahasa tersebut dapat terlihat dalam empat aspek keterampilan, yakni keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan yang paling pertama kita miliki adalah kemampuan menyimak, karena dari kemampuan ini kemampuan-kemampuan yang lain lahir. Kemudian dilanjutkan oleh kemampuan berbicara, lalu kemampuan membaca, dan terakhir kemampuan menulis.
Saya pun memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, tetapi tentunya dengan kadarnya masing-masing. Berikut saya akan menjabarkan pendapat saya mengenai kemampuan berbahasa saya sendiri sebagai bahan evaluasi diri sekaligus tugas mata kuliah Bahasa Indonesia dimulai dari keterampilan menyimak hingga keterampilan menulis.
     1.      Keterampilan Menyimak
Keterampilan menyimak tidak hanya sekedar kemampuan mendengarkan tetapi juga kemampuan untuk memahami apa yang didengar dengan baik. Meskipun terdengar mudah, namun ada kalanya saya merasa kesulitan menyimak dalam situasi non-interaktif. Berdasarkan apa yang saya baca secara online di internet, ada dua jenis situasi dalam mendengarkan yaitu situasi mendengarkan secara interaktif dan situasi mendengarkan secara non interaktif. Mendengarkan secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenis dengan itu. Sedangkan contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan radio, TV, dan film, dan sebagainya.
Saya merasa lebih mudah menyimak dalam situasi yang interaktif dibandingkan dengan situasi yang non-interaktif.
     2.      Keterampilan Berbicara
Keterampilan selanjutnya yang akan saya bahas yakni keterampilan berbicara. Saya suka mengajukan pendapat, saya juga suka menjelaskan sesuatu pada orang lain seperti presentasi atau maju ke depan untuk berbicara. Meskipun merasa gugup, saya tetap semangat untuk melakukannya di depan orang-orang. Akan tetapi, suka saja tidak cukup. Sering kali saya mendapati diri kesulitan merangkai kata dan kalimat di depan ataupun terbata karena gugup yang terlalu menguasai saya. Hal ini membuat saya menyadari bahwa keterampilan berbicara saya masih belum cukup untuk membantu saya berbicara serta mengutarakan pendapat di depan lebih banyak orang, misalnya masyarakat luas.
     3.      Keterampilan Membaca
Harus saya akui bahwa saya lebih sering membaca buku-buku fiksi ketimbang buku-buku berbau pelajaran, apalagi saya hanya membacanya ketika ingin. Dengan kata lain, saya jarang membaca. Saya meyakini salah satu tujuan dari membaca yaitu untuk mendapatkan informasi, dan itu merupakan aktifitas yang penting karena baik dalam bidang akademi maupun bidang lainnya, saya akan terus bertemu dengan yang namanya ‘membaca’. Saya sangat menyadari keterampilan membaca saya masih kurang dibandingkan orang lain karena seringkali saya harus membaca ulang kalimat yang sama untuk menangkap informasi yang ada di dalamnya.
     4.      Keterampilan Menulis
Berdasarkan pencarian saya di web, kebanyakan orang mengatakan keterampilan menulis merupakan yang tersulit untuk dikuasai. Hal ini karena dalam menulis melibatkan unsur bahasa dan nonbahasa yang harus dikuasai penulis. Dan saya termasuk dalam kebanyakan orang tersebut. Saya rasa menulis cukup sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan sama sekali. Memang, ada banyak hal yang harus dikuasai dalam menulis. Menguasai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) saja belumlah cukup, namun juga diperlukan pengetahuan lainnya dan pengalaman yang dapat dijadikan ide atau gagasan yang akan dituangkan dalam tulisan tersebut. Pengetahuan dan pengalaman inilah yang dimaksud dengan unsur nonbahasa. Tentunya, saya belum menguasai keterampilan yang satu ini, mengingat masih ada begitu banyak kekurangan dalam tulisan saya.
Jadi, kesimpulannya adalah saya belum menguasai satupun dari keterampilan tersebut, namun saya bisa menggunakannya secara awam. Saya suka berbahasa, sadar atau tidak sering menggunakannya, namun apa yang saya punya masih belum cukup untuk disebut keterampilan. Sehingga saya mampu, tetapi belum terampil.


KEMAMPUAN BERBAHASAKU

Nama : Chrisanto p. Burongan
Nim    : 1810817710001




Dalam berbahasa saya kurang dalam hal menyimak berbagai kata khususnya dalam pembuatan kalimat, karangan , makalah dan puisi. Soalnya dalam pembuatan tulisan tersebut membutuhkan Bahasa yang benar dan baku. Dan juga satu dari kelemahan ku ialah menentukan apakah kalimat – kalimat yang ku pakai apakah benar dan sesuai dengan aturannya.

Kemampuan Berbahasaku

NAMA                  : Silvia Handayani
NIM                       : 1810817120003
PRODI                   : Teknologi Informasi
KELAS                    : A
Kemampuan Berbahasaku
                Sejak kita lahir,  tanpa disadari kita telah belajar 4 keterampilan, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan tersebut berkembang seiring dengan bertambahnya umur.
Saya pandai dalam menyimak dan membaca, tetapi kurang dalam hal berbicara. Saya seringkali gugup ketika ingin berbicara di hadapan orang. Walapun di dalam kepala sudah menyusun kata-kata dengan begitu tertata, itu semua terasa sia-sia ketika sudah berdiri di hadapan orang banyak karena kata-kata tersebut langsung hilang begitu saja. Saya juga tidak begitu ahli dalam menulis, karena menurut saya menulis itu hal yang sulit dan cukup rumit. Kita harus mengetahui dan mempelajari bagaimana aturan-aturan dalam menulis, kita pun juga harus menyusun kata-kata semenarik mungkin untuk membuat orang lain membaca tulisan kita. Itu berarti kita harus menjadi orang yang kreatif.
Setiap orang memang telah belajar 4 kemampuan tersebut, tetapi tidak semua orang bisa dalam artian ahli ke-4 nya. Tetapi tidak menutup kemungkinan kita dapat menguasai ke-4 bidang tersebut jika kita terus berlatih dan belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar